Langsung ke konten utama

Penguatan bagi Pasien di RSUD Waibakul

Gembala yang Peduli: Penguatan bagi Pasien di RSUD Waibakul

Kelompok bimbingan konseling rohani di RSUD Waibakul melalui modul e-PAKRIS pada Senin, 8 Juni 2026, mengangkat tema “Gembala yang Peduli” dengan dasar firman Mazmur 23. Tema ini sangat tepat untuk pelayanan kepada pasien karena Mazmur 23 menggambarkan Tuhan sebagai Gembala yang hadir, memelihara, menuntun, dan menguatkan umat-Nya di tengah pergumulan hidup. Bagi pasien yang sedang sakit, lemah, cemas, atau menanti kesembuhan, firman ini menjadi sumber penghiburan yang sangat berarti.

Mazmur 23 mengajarkan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Ia membimbing ke padang rumput hijau dan air yang tenang, menyegarkan jiwa yang letih, serta menuntun ke jalan yang benar. Bahkan ketika berjalan melalui lembah kekelaman, umat Tuhan tidak perlu takut, sebab Tuhan tetap menyertai. Pesan ini sangat menguatkan bagi pasien dan keluarga pasien yang sedang menghadapi masa-masa sulit di rumah sakit. Di tengah rasa sakit, ketidakpastian, dan kekhawatiran, firman Tuhan mengingatkan bahwa mereka tidak berjalan sendirian.

Pelayanan bimbingan rohani kepada pasien memiliki peran yang sangat penting. Pasien bukan hanya membutuhkan obat dan tindakan medis, tetapi juga dukungan batin, penghiburan, dan penguatan iman. Di sinilah firman Tuhan bekerja menenangkan hati, memberi harapan, dan menumbuhkan keberanian untuk tetap percaya kepada Tuhan. Kehadiran pelayan rohani menjadi sarana bagi pasien untuk merasakan bahwa Tuhan dekat dan peduli terhadap keadaan mereka.

Mazmur 23 juga menegaskan bahwa Tuhan adalah Gembala yang mencukupi. Kata “takkan kekurangan aku” bukan berarti hidup bebas dari masalah, tetapi menegaskan bahwa di dalam Tuhan selalu ada pemeliharaan, pertolongan, dan penyertaan yang cukup. Bagi pasien, ini menjadi pengingat bahwa meskipun tubuh sedang lemah, Tuhan tetap sanggup menguatkan hati, memberi damai, dan memulihkan semangat hidup. Iman kepada Tuhan membantu pasien melihat bahwa harapan tidak pernah hilang selama Tuhan tetap menjadi Gembala dalam hidup mereka.

Bimbingan rohani juga membantu keluarga pasien untuk tetap kuat dan tenang. Sering kali keluarga ikut merasakan beban yang berat saat mendampingi orang terkasih yang sakit. Melalui Mazmur 23, mereka diingatkan bahwa Tuhan juga menyertai mereka dalam menunggu, berdoa, dan berharap. Dengan demikian, firman Tuhan tidak hanya menguatkan pasien, tetapi juga membangun ketahanan iman keluarga yang mendampingi.

Tema “Gembala yang Peduli” menjadi sangat relevan karena menunjukkan bahwa pelayanan rohani harus menghadirkan kasih, penghiburan, dan harapan yang nyata. Tuhan yang digambarkan dalam Mazmur 23 adalah Gembala yang mengerti kebutuhan umat-Nya, bahkan di saat paling rapuh sekalipun. Karena itu, pelayanan kepada pasien harus dilakukan dengan hati yang penuh empati, kelembutan, dan perhatian.

Penutup

Mazmur 23 mengingatkan kita bahwa Tuhan adalah Gembala yang setia, yang tidak meninggalkan umat-Nya di tengah sakit dan pergumulan. Dalam pelayanan bimbingan rohani di RSUD Waibakul, firman ini menjadi penguatan bagi pasien agar tetap berharap, tetap tenang, dan tetap percaya bahwa Tuhan bekerja dalam setiap proses hidup mereka. Gembala yang peduli selalu hadir untuk menghibur, meneguhkan, dan memulihkan.

Ayat Pokok

“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.”
Mazmur 23:1


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menumbuhkan Toleransi dan Harmoni, Penyuluh Agama Kristen Kemenag Sumba Tengah Laksanakan Penyuluhan

Waibakul, 9 Februari 2026 – Penyuluh Agama Kristen Kementerian Agama Kabupaten Sumba Tengah, Alfred Umbu Oka, S.Pd., melaksanakan kegiatan bimbingan dan penyuluhan keagamaan di GKS Waikambila Bijuk. Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas pelayanan keagamaan kepada umat binaan dalam rangka memperkuat iman, karakter, dan sikap kebangsaan jemaat. Dalam kesempatan tersebut, Penyuluh Agama Kristen menyampaikan materi pembinaan iman dengan tema “Mensyukuri Keragaman dalam Pendidikan dan Masyarakat Indonesia”. Materi ini diikuti oleh Kepala Sekolah SD Masehi Waiwakus sekaligus sekaligus mantan guru dan warga jemaat yang tergabung dalam Kelompok Keluarga Kristen Bahagia Sejahtera di GKS Waikambila Bijuk. Penyampaian materi dilakukan dengan pendekatan komunikatif dan kontekstual, sehingga mudah dipahami dan dekat dengan pengalaman hidup para peserta. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan mampu menumbuhkan sikap toleran, saling menghargai perbedaan, serta membiasakan diri hidup ...

Lansia masih bekerja di kebun

Masih Kuat di Usia Senja: Teladan Juma Rangga Ronja yang Menguatkan Iman Di sa at banyak orang mulai mengeluh ketika usia belum terlalu tua, ada seorang lansia bernama Juma Rangga Ronja dari Umapaohi, Desa Bolu Bokat Utara, GKS Waikambila Bijuk Ranting Wairewa, yang justru menunjukkan keteguhan hidup yang luar biasa. Pada usianya yang telah mencapai 96 tahun, beliau masih tetap kuat, masih sanggup bekerja di kebun, dan masih menjalani hari-harinya dengan semangat yang tidak mudah padam. Kesaksian hidup seperti ini bukan hanya mengagumkan, tetapi juga menggugah hati siapa pun yang mendengarnya. Pada kesempatan yang penuh makna ini, Alfred Umbu Oka, S.Pd., selaku Penyuluh Agama Kristen dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumba Tengah, hadir memberikan penguatan rohani melalui doa bagi Juma Rangga Ronja. Kehadiran ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan wujud nyata dari pelayanan kasih yang meneguhkan bahwa orang tua tetap dihargai, tetap diperhatikan, dan tetap layak menerima pe...

PENGUATAN ROHANI DI RSUD WAIBAKUL: SAAT DOA JADI OBAT AJAIB

Pelayanan Bimbingan Rohani di RSUD Waibakul: Menabur Benih Harapan di Tengah Sakit Oleh: Alfred Umbu Oka, S.Pd. Penyuluh Agama Kristen, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumba Tengah Pagi ini, hati saya dipenuhi sukacita saat saya melaksanakan penyuluhan bimbingan rohani di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Waibakul. Sebagai penyuluh yang telah lama melayani di pelosok Sumba Tengah, kesempatan ini seperti panggilan surgawi—membawa terang Kristus ke ruang-ruang penuh erangan sakit, di mana jiwa sering lebih lemah daripada tubuh. Langkah awal kami adalah melapor diri secara resmi ke kantor rumah sakit, lengkap dengan Surat Keputusan (SK) pembagian tugas kelompok sasaran. Saya disambut ramah oleh Ibu Kepala Tata Usaha, Katrina T. Lawang, S.KM. Beliau tak hanya beri dukungan administratif, tapi sampaikan apresiasi tulus: "Kami bersyukur sekali dengan adanya penyuluh agama seperti Bapak/ibu, bisa memberikan penguatan rohani melalui doa bagi setiap pasien." Kata-kata itu seper...