Sehati atau Saling Menyakiti?
Di banyak jemaat, perpecahan sering kali tidak dimulai dari masalah besar. Ia lahir dari hal-hal kecil yang dibiarkan tumbuh: perbedaan pendapat, rasa tersinggung, gengsi, komentar yang tidak dijaga, dan hati yang tidak mau mengalah. Padahal, Rasul Paulus dengan sangat tegas menasihati, “Hendaklah kamu sehati sepikir dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan” (Filipi 2:2). Nasihat ini bukan sekadar ajakan moral, melainkan panggilan rohani agar umat Tuhan tidak hidup terpecah-pecah.
Pertanyaannya, apakah jemaat hari ini benar-benar sehati, atau hanya bersama secara fisik tetapi terpisah dalam hati? Banyak orang hadir dalam ibadah, tetapi membawa luka, prasangka, dan kepentingan pribadi. Banyak yang bernyanyi dengan mulut, tetapi hatinya menolak untuk mengampuni. Inilah kenyataan pahit yang sering membuat persekutuan kehilangan kuasa kesaksiannya. Jemaat yang tidak sehati akan mudah rapuh, sedangkan jemaat yang hidup dalam kasih akan menjadi kuat dan memuliakan Tuhan.
Kasih Kristus bukan hanya terlihat ketika kita ramah kepada orang yang kita sukai. Kasih sejati justru diuji saat kita harus tetap rendah hati kepada orang yang pernah menyakiti kita. Mengampuni bukan berarti melupakan begitu saja, tetapi memilih untuk tidak terus-menerus hidup dalam dendam. Rendah hati berarti rela menurunkan ego demi memelihara damai. Di sinilah iman menjadi nyata: bukan dalam kata-kata yang indah, melainkan dalam sikap yang memulihkan.
Jemaat yang sehati akan lebih kuat daripada jemaat yang pintar berdebat. Jemaat yang satu tujuan akan lebih berdaya daripada jemaat yang sibuk mempertahankan ego masing-masing. Karena itu, perpecahan bukan sekadar masalah relasi; perpecahan adalah ancaman terhadap kesaksian gereja. Dunia tidak sedang mencari jemaat yang sempurna, tetapi jemaat yang sungguh hidup dalam kasih dan persaudaraan.
Firman Tuhan mengingatkan bahwa persatuan bukanlah pilihan tambahan, melainkan bukti bahwa Kristus benar-benar hidup di tengah umat-Nya. Jika kasih hilang, maka pelayanan menjadi kering. Jika kerendahan hati lenyap, maka persekutuan menjadi arena saling melukai. Jika pengampunan ditolak, maka luka akan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, mari bertanya dengan jujur: apakah kita sedang membangun tubuh Kristus, atau justru merobeknya perlahan-lahan? Apakah kata-kata kita menyembuhkan, atau malah memperdalam luka? Apakah kehadiran kita membawa damai, atau justru menjadi sumber kegelisahan? Pertanyaan-pertanyaan ini penting, sebab orang percaya dipanggil bukan untuk saling mengalahkan, melainkan saling menguatkan.
Sebagai penyuluh agama Kristen dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumba Tengah, Alfred Umbu Ok, S.Pd menegaskan bahwa gereja dan jemaat akan kuat bila setiap orang mau hidup dalam kasih, rendah hati, dan saling mengampuni. Persatuan bukan terjadi dengan sendirinya, tetapi harus diperjuangkan setiap hari melalui sikap hati yang tunduk kepada firman Tuhan.
Maka, pilihan kita hari ini jelas: mau tetap mempertahankan ego, atau mulai membangun kesatuan? Sebab jemaat yang sehati bukan hanya indah dilihat, tetapi juga kuat menghadapi tantangan dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Komentar
Posting Komentar