Menjadi Pembawa Damai di Tengah Perbedaan
Di tengah masyarakat yang majemuk, pertanyaan yang paling penting bukanlah siapa yang paling kuat berbicara, melainkan siapa yang paling mampu menjaga damai. Moderasi beragama bukan berarti mengurangi iman, tetapi menunjukkan iman itu melalui kasih, kerendahan hati, dan penghargaan terhadap perbedaan. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil bukan untuk memperbesar jurang antar sesama, melainkan menjadi jembatan yang menghubungkan hati, keluarga, jemaat, dan masyarakat.
Pelayanan di GKS Waikambila Bijuk, yang berada di wilayah Kecamatan Umbu Ratu Nggay Tengah, menjadi salah satu ruang nyata untuk mempraktikkan semangat itu. Dalam kehidupan gereja dan masyarakat, perbedaan sering kali bukan masalah utama; yang lebih sering menjadi masalah adalah sikap hati yang sulit menerima, mudah tersinggung, dan cepat memutuskan persaudaraan. Karena itu, moderasi beragama harus hadir sebagai gaya hidup, bukan hanya slogan.
Firman Tuhan menegaskan, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9). Ayat ini sangat jelas: anak Tuhan bukan sekadar orang yang rajin beribadah, tetapi orang yang menghadirkan damai di mana pun ia berada. Artinya, iman Kristen sejati selalu terlihat dari cara kita berbicara, bersikap, dan memperlakukan orang lain. Jika seseorang mengaku beriman, tetapi hidupnya penuh pertengkaran, kebencian, dan merendahkan orang lain, maka kesaksiannya kehilangan kekuatan.
Dalam konteks keluarga, moderasi beragama berarti membangun rumah tangga yang penuh kasih, saling menghormati, dan tidak memaksakan kehendak dengan cara yang melukai. Dalam konteks jemaat, moderasi berarti melayani dengan hati yang bersih, tidak dikuasai kepentingan pribadi, dan tidak membiarkan perbedaan pendapat berubah menjadi perpecahan. Dalam konteks masyarakat, moderasi berarti hidup berdampingan dengan damai bersama siapa pun, termasuk mereka yang berbeda latar belakang, suku, maupun keyakinan.
Yang perlu digarisbawahi, damai bukanlah kelemahan. Damai adalah kekuatan rohani yang menunjukkan bahwa seseorang telah ditaklukkan oleh kasih Kristus. Orang yang membawa damai justru sedang menunjukkan karakter Allah. Sebaliknya, orang yang mudah memicu konflik sedang memberi ruang bagi kebencian untuk tumbuh. Karena itu, menjadi pembawa damai bukan pilihan tambahan, melainkan panggilan utama orang percaya.
Penyuluh Agama Kristen Alfred Umbu Oka, S.Pd, sebagai pegawai Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumba Tengah yang melayani di GKS Waikambila Bijuk, dapat menjadi contoh bagaimana pelayanan Kristen hadir bukan hanya dalam pengajaran, tetapi juga dalam membangun suasana rukun dan saling menghargai. Pelayanan yang benar bukan hanya mampu menyampaikan firman, tetapi juga mampu menyentuh realitas hidup umat, terutama di tengah tantangan kebersamaan dan perbedaan dalam masyarakat.
Maka, pertanyaannya bagi kita hari ini sangat sederhana namun tajam: apakah iman kita sedang membangun damai, atau justru menambah perpecahan? Apakah kehadiran kita membuat orang merasa diterima, atau justru merasa dijauhkan? Orang percaya dipanggil untuk menjadi terang yang menuntun, bukan api yang membakar habis persaudaraan.
Jika gereja ingin menjadi kuat, maka gereja harus menjadi tempat yang rukun. Jika keluarga ingin bertahan, maka keluarga harus dibangun di atas kasih. Jika masyarakat ingin damai, maka setiap orang harus belajar menjadi pembawa damai. Itulah wajah moderasi beragama yang sejati: hidup dalam kasih, berjalan dalam damai, dan menjadi saksi Kristus di tengah dunia yang haus akan persaudaraan.
#kemenagsumbatengah
#kemenagri
#kanwilntt
#penyuluhberdampak

Komentar
Posting Komentar