Menjaga Taman Tuhan: Ekoteologi sebagai Wujud Iman Jemaat GKS Waikambila Bijuk
Pendahuluan: Alam sebagai Cermin Kemuliaan Tuhan
Gereja Kristen Sumba (GKS) Jemaat Waikambila Bijuk dipanggil untuk tidak sekadar beribadah di dalam gedung, tetapi juga melayani di tengah alam yang Tuhan ciptakan. Ekoteologi hadir bukan sebagai ajaran baru, melainkan pengingat bahwa merawat bumi adalah tanggung jawab iman. Bumi yang kita tempati, tanah yang kita tanami, dan air yang kita minum adalah titipan Tuhan yang harus kita jaga dengan penuh rasa syukur.
Landasan Alkitabiah: Mandat untuk Mengusahakan dan Memelihara
Dalam Kejadian 2:15, Allah menempatkan manusia di taman Eden untuk "mengusahakan dan memelihara" taman itu. Menariknya, dalam bahasa Ibrani, kata "mengelola" (abudah) memiliki akar kata yang sama dengan "ibadah" atau "pengabdian".
Artinya, ketika kita menanam pohon, menjaga kesuburan tanah, dan mengelola sampah di lingkungan jemaat GKS Waikambila Bijuk, kita sedang menjalankan ibadah yang nyata. Kita tidak sekadar mengelola benda mati, melainkan sedang mengabdi kepada Allah Sang Pencipta melalui ciptaan-Nya.
Mengintegrasikan Ekoteologi dalam Hidup Jemaat
Sebagai jemaat, kita diajak untuk mengubah cara pandang tradisional kita menjadi paradigma ekoteologis yang lebih luas melalui langkah konkret:
Gereja yang Hijau: Membangun lingkungan gereja yang asri dan menyediakan ruang bagi pepohonan, sebagai simbol kehidupan yang bertumbuh di bawah naungan kasih Tuhan.
Gaya Hidup Ramah Lingkungan: Membudayakan hidup hemat energi (air dan listrik) serta mengurangi penggunaan plastik sekali pakai di rumah tangga masing-masing.
Pemberdayaan Lahan: Mendorong setiap keluarga jemaat untuk memanfaatkan pekarangan rumah dengan menanam tanaman produktif yang bermanfaat bagi ekonomi dan ekologi.
Ibadah yang Peduli Alam: Menjadikan pesan-pesan pelestarian lingkungan sebagai bagian dari khotbah dan refleksi dalam persekutuan minggu.
Panggilan untuk Bertindak
Dunia sedang menghadapi krisis iklim, kekeringan, dan kerusakan lingkungan yang juga kita rasakan dampaknya di Sumba. Namun, sebagai umat yang percaya, kita tidak boleh putus asa. Kita dipanggil untuk menjadi penatalayan yang bertanggung jawab (Kejadian 1:28). Mari kita jadikan lingkungan GKS Waikambila Bijuk sebagai contoh komunitas yang lestari.
Saat kita menanam satu benih pohon, kita sedang menanam harapan bagi generasi anak cucu kita. Saat kita menjaga kebersihan, kita sedang merawat "rumah" yang Tuhan berikan. Mari kita wujudkan iman melalui perbuatan, sebab merawat bumi adalah bentuk tertinggi dari ibadah kepada Tuhan.
Pesan Penutup untuk Jemaat
"Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya." (Mazmur 24:1). Karena bumi ini milik Tuhan, maka setiap jengkal tanah yang kita pijak adalah tanah kudus. Mari rawat dengan kasih!
#EkoteologiKristen #RawatBumiSebagaiIbadah #GKSWaikambilaBijuk #PenyuluhAgamaKristen #AlfredUmbuOka #KemenagSumbaTengah #ImanDanCiptaan

Komentar
Posting Komentar