Minggu ke-2, Bagian I: Tentang Sengsara Manusia, khusus pertanyaan ketiga
Mengenal Sengsara Diri di Hadapan Hukum Taurat Allah
Manusia sering merasa dirinya cukup baik selama ia membandingkan diri dengan orang lain. Selama masih ada orang yang dianggap lebih buruk, manusia cenderung merasa aman dan tenang. Namun ukuran kebenaran menurut Allah tidak ditentukan oleh perbandingan antar manusia, melainkan oleh firman-Nya sendiri. Karena itu, pertanyaan “Dari manakah saudara dapat mengetahui sengsara saudara?” membawa kita pada satu jawaban yang tegas: dari Hukum Taurat Allah.
Dasarnya jelas dalam Roma 3:20, yang menyatakan bahwa oleh hukum Taurat orang mengenal dosa. Dengan kata lain, hukum Taurat berfungsi sebagai cermin yang memperlihatkan keadaan manusia yang sebenarnya di hadapan Allah.
Hukum Taurat tidak diberikan supaya manusia dapat membanggakan dirinya, melainkan supaya manusia sadar bahwa dirinya berdosa dan membutuhkan pertolongan. Banyak orang ingin melihat diri mereka baik tanpa harus berhadapan dengan standar Allah. Namun ketika firman Tuhan menyentuh hati, barulah manusia sadar bahwa ada banyak hal dalam dirinya yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Di sinilah sengsara manusia mulai terlihat, bukan sekadar pada penderitaan lahiriah, tetapi terutama pada keadaan rohani yang jauh dari kesempurnaan Allah.
Hukum Taurat sebagai Cermin
Hukum Taurat Allah bekerja seperti cermin yang jujur. Cermin tidak mengubah wajah kita, tetapi memperlihatkan keadaan kita apa adanya. Demikian juga Taurat tidak menyembuhkan dosa, tetapi menyingkapkan dosa. Karena itu, ketika seseorang membaca firman Tuhan dengan sungguh-sungguh, ia akan melihat bahwa pikirannya, perkataannya, dan tindakannya belum sungguh selaras dengan kekudusan Allah. Ia akan menyadari bahwa dirinya tidak sebaik yang selama ini ia bayangkan.
Inilah alasan mengapa Roma 3:20 sangat penting. Firman itu menegaskan bahwa tidak seorang pun dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, sebab justru melalui Taurat orang mengenal dosa. Jadi, Taurat bukanlah tangga untuk naik ke surga, melainkan terang yang menyingkapkan gelapnya hati manusia. Tanpa Taurat, manusia mudah hidup dalam ilusi tentang dirinya sendiri. Namun dengan Taurat, manusia dipanggil untuk jujur dan bertobat.
Sengsara yang Tidak Selalu Terlihat
Sengsara manusia tidak selalu tampak dalam bentuk penderitaan fisik atau kesulitan ekonomi. Ada sengsara yang lebih dalam, yaitu sengsara rohani. Hati yang gelisah, batin yang tidak damai, rasa bersalah yang terus menghantui, dan hubungan yang rusak dengan Allah adalah tanda-tanda sengsara yang sesungguhnya. Banyak orang bisa tersenyum di luar, tetapi di dalam hatinya ia sedang bergumul dengan beban yang berat.
Hukum Taurat menolong manusia melihat bahwa sengsara itu bukan sesuatu yang kebetulan. Sengsara itu berkaitan erat dengan dosa yang hidup dalam diri manusia. Ketika seseorang mulai mengerti tuntutan hukum Allah, ia akan sadar bahwa hidupnya belum memenuhi ukuran yang benar. Ia akan melihat bahwa dirinya membutuhkan belas kasihan Tuhan, bukan pujian manusia. Kesadaran ini memang menyakitkan, tetapi justru menyelamatkan, sebab tanpa kesadaran akan sengsara, manusia tidak akan pernah sungguh-sungguh mencari jalan keluar.
Fungsi Rohani Hukum Taurat
Hukum Taurat memiliki fungsi rohani yang sangat penting. Ia bukan hanya aturan, tetapi juga alat Tuhan untuk membangunkan hati manusia yang tidur dalam dosa. Melalui Taurat, manusia dipaksa untuk berhenti membenarkan diri sendiri. Ia tidak lagi bisa berkata bahwa dirinya cukup baik atau layak di hadapan Allah. Sebaliknya, ia akan terdorong untuk berseru memohon pengampunan.
Karena itu, mengenal sengsara melalui Taurat bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari perjalanan menuju anugerah. Ketika manusia sadar bahwa dirinya berdosa, maka ia akan lebih siap menerima Kristus sebagai Juruselamat. Taurat membuat manusia mengerti bahwa ia membutuhkan pertolongan dari luar dirinya sendiri. Dan justru di titik itulah Injil menjadi sangat indah, sebab Kristus datang bagi orang berdosa yang sadar akan kebutuhannya.
Menjadi Jujur di Hadapan Allah
Pertanyaan ini juga mengajarkan kita untuk jujur. Banyak orang lebih suka menutup-nutupi kelemahan, tetapi firman Tuhan mengajak kita untuk tidak hidup dalam kepura-puraan. Jika Hukum Taurat Allah memperlihatkan sengsara kita, maka sikap yang benar adalah mengakuinya. Pengakuan dosa bukan tanda kelemahan iman, melainkan tanda kerendahan hati yang benar di hadapan Tuhan.
Orang yang jujur di hadapan Allah akan lebih mudah mengalami penghiburan-Nya. Sebab Tuhan tidak mencari manusia yang tampak sempurna, tetapi manusia yang mau dibentuk dan dipulihkan. Hukum Taurat menunjukkan diagnosis rohani, dan Injil memberikan obatnya. Oleh karena itu, mengenal sengsara diri bukan untuk berputus asa, melainkan untuk datang kepada kasih karunia Allah dengan hati yang hancur dan terbuka.
Penutup
Pertanyaan “Dari manakah saudara dapat mengetahui sengsara saudara?” dijawab dengan sangat jelas: dari Hukum Taurat Allah. Firman ini menegaskan bahwa manusia mengenal dosanya bukan dari perasaan, bukan dari pendapat orang lain, tetapi dari standar kudus Allah sendiri. Roma 3:20 menolong kita mengerti bahwa Taurat memperlihatkan sengsara manusia agar ia tidak terus hidup dalam kebutaan rohani.
Karena itu, mari kita membaca firman Tuhan dengan hati yang rendah, jujur, dan siap bertobat. Sebab hanya orang yang sadar akan sengsaranya yang sungguh akan mencari penghiburan sejati di dalam Kristus. Dan hanya di dalam Kristus itulah manusia menemukan jalan keluar dari dosa, sengsara, dan ketidakberdayaannya.
Komentar
Posting Komentar