Ekoteologi: Keluarga Merawat Ciptaan Tuhan
Ayat dasar: Kejadian 2:15
Banyak orang berdoa meminta berkat dari Tuhan, tetapi lupa bahwa bumi yang mereka pijak, air yang mereka minum, dan udara yang mereka hirup juga adalah berkat Tuhan. Kita senang menikmati hasil kebun, teduhnya pohon, dan air yang bersih, tetapi sering kali tidak mau repot menjaga semuanya. Sampah dibuang sembarangan, halaman dibiarkan kotor, pohon ditebang tanpa dipikirkan kembali, dan sumber air tidak dirawat. Pertanyaannya menjadi tajam: bagaimana mungkin manusia mengaku mengasihi Sang Pencipta, tetapi tidak peduli terhadap ciptaan-Nya?
Kejadian 2:15 menyatakan bahwa Tuhan Allah menempatkan manusia di taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Dua kata ini sangat penting: mengusahakan dan memelihara. Tuhan memang memberi manusia kemampuan untuk memakai hasil bumi, berkebun, membangun rumah, dan mengelola alam. Namun Tuhan tidak pernah memberi izin kepada manusia untuk merusak, menghabiskan, atau memperlakukan ciptaan seolah-olah tidak mempunyai nilai.
Keluarga Kristen dipanggil untuk melihat lingkungan sebagai titipan Tuhan. Bumi bukan warisan yang boleh dihabiskan sesuka hati, tetapi titipan yang harus dijaga bagi anak cucu. Jika hari ini kita membuang sampah di sungai, maka anak-anak kita mungkin akan mewarisi air yang kotor. Jika kita membiarkan pohon hilang tanpa menanam kembali, maka generasi berikut akan menghadapi tanah yang gersang dan udara yang semakin panas. Kerusakan lingkungan tidak datang secara tiba-tiba; ia sering dimulai dari kebiasaan kecil yang dibiarkan terus-menerus.
Merawat ciptaan Tuhan dapat dimulai dari rumah. Keluarga dapat membersihkan halaman, menyediakan tempat sampah, memilah sampah yang masih bisa dimanfaatkan, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, menanam bunga atau pohon buah, menjaga kebun, dan tidak mencemari sumber air. Tindakan ini mungkin terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya merupakan kesaksian iman yang nyata. Iman tidak hanya terlihat saat seseorang menyanyi, berdoa, atau datang beribadah. Iman juga terlihat ketika seseorang memungut sampah yang bukan miliknya, menanam pohon yang hasilnya mungkin dinikmati orang lain, dan mengajak anak-anak menghargai alam.
Keluarga yang merawat ciptaan sedang mengajarkan ucapan syukur. Bersyukur bukan hanya berkata, “Terima kasih, Tuhan,” tetapi juga menjaga apa yang Tuhan berikan. Tuhan memberi tanah supaya diusahakan dengan bijak. Tuhan memberi air supaya dipelihara. Tuhan memberi tumbuhan supaya dirawat, bukan dimusnahkan. Dalam cara seperti inilah keluarga menunjukkan bahwa mereka sadar hidup ini bergantung pada kemurahan Tuhan.
Jangan menunggu lingkungan rusak total baru mulai peduli. Jangan menunggu banjir, kekeringan, penyakit, atau tanah tandus baru menyadari bahwa tindakan manusia memiliki akibat. Keluarga Kristen harus berani memulai dari hal kecil, sebab perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan setia.
Penutup
Kejadian 2:15 adalah panggilan iman bagi setiap keluarga: Tuhan mempercayakan ciptaan-Nya untuk diusahakan dan dipelihara. Karena itu, keluarga Kristen dipanggil bukan menjadi perusak, melainkan penjaga ciptaan Tuhan. Merawat kebersihan rumah, mengurangi sampah, menanam pohon, dan menjaga lingkungan adalah wujud nyata iman serta ucapan syukur kepada Allah.
Komentar
Posting Komentar