Langsung ke konten utama

Keluarga yang Damai Tidak Dibangun oleh Ego

 

Keluarga Kristen sebagai Pembawa Damai

Rabu, 9 September 2026
Ayat dasar: Roma 12:18

Banyak keluarga berharap rumah mereka menjadi tempat yang nyaman, tetapi sering kali justru rumah menjadi tempat paling mudah munculnya amarah, kata-kata kasar, dan luka hati. Perbedaan pendapat antara suami dan istri, orang tua dan anak, atau sesama anggota keluarga dapat berubah menjadi konflik besar ketika tidak disikapi dengan kasih. Masalahnya bukan selalu pada perbedaan itu sendiri, melainkan pada ego yang tidak mau merendahkan diri dan hati yang tidak mau mendengar.

Roma 12:18 berkata, “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” Firman ini tidak mengatakan bahwa hidup damai selalu mudah. Justru kata “sedapat-dapatnya” menunjukkan bahwa perdamaian membutuhkan usaha, kesabaran, penguasaan diri, dan kemauan untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Dalam keluarga, damai tidak tercipta hanya karena semua orang tinggal di bawah satu atap. Damai lahir ketika setiap orang memilih kasih lebih besar daripada ego.

Keluarga Kristen dipanggil menjadi pembawa damai, pertama-tama di dalam rumah sendiri. Jangan sampai seseorang rajin berbicara tentang kasih di gereja, tetapi di rumah ia mudah membentak. Jangan sampai seseorang berdoa meminta damai sejahtera, tetapi menyimpan dendam terhadap anggota keluarganya. Damai harus dimulai dari cara kita berbicara, mendengar, menegur, meminta maaf, dan mengampuni.

Komunikasi yang baik menjadi salah satu kunci penting. Banyak konflik sebenarnya bisa dicegah apabila setiap anggota keluarga mau berbicara dengan jujur tetapi tidak menyakiti. Ada perbedaan antara menyampaikan kebenaran dan menyerang orang lain. Kebenaran dapat disampaikan dengan kasih. Teguran dapat diberikan dengan kelemahlembutan. Ketidaksetujuan dapat dibicarakan tanpa harus menghina. Ketika komunikasi dibangun dengan hormat, keluarga akan lebih kuat menghadapi perbedaan.

Keluarga juga harus belajar menghargai latar belakang, karakter, dan kebiasaan yang tidak selalu sama. Tidak semua orang berpikir dengan cara yang sama. Tidak semua orang memiliki cara mengekspresikan kasih yang sama. Karena itu, keluarga perlu belajar memahami, bukan cepat menghakimi. Sering kali konflik membesar karena seseorang merasa tidak dihargai atau tidak didengar. Maka, mendengar dengan sungguh-sungguh adalah salah satu bentuk kasih yang paling sederhana tetapi sangat kuat.

Keluarga Kristen yang hidup damai akan menjadi kesaksian bagi masyarakat. Di tengah dunia yang mudah terpecah oleh perbedaan, keluarga yang mampu saling menghormati menjadi teladan yang berbicara lebih kuat daripada banyak nasihat. Anak-anak yang melihat orang tuanya menyelesaikan masalah dengan doa, komunikasi, dan pengampunan akan belajar membawa pola hidup yang sama ke sekolah, gereja, dan masyarakat.

Penutup

Roma 12:18 mengingatkan bahwa orang percaya dipanggil untuk hidup dalam perdamaian dengan semua orang. Keluarga Kristen harus menjadi tempat pertama di mana damai itu dipelajari dan dijalankan. Melalui komunikasi yang baik, hati yang mau mengalah, serta kesediaan untuk mengampuni, keluarga dapat menjadi pembawa damai di tengah masyarakat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menumbuhkan Toleransi dan Harmoni, Penyuluh Agama Kristen Kemenag Sumba Tengah Laksanakan Penyuluhan

Waibakul, 9 Februari 2026 – Penyuluh Agama Kristen Kementerian Agama Kabupaten Sumba Tengah, Alfred Umbu Oka, S.Pd., melaksanakan kegiatan bimbingan dan penyuluhan keagamaan di GKS Waikambila Bijuk. Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas pelayanan keagamaan kepada umat binaan dalam rangka memperkuat iman, karakter, dan sikap kebangsaan jemaat. Dalam kesempatan tersebut, Penyuluh Agama Kristen menyampaikan materi pembinaan iman dengan tema “Mensyukuri Keragaman dalam Pendidikan dan Masyarakat Indonesia”. Materi ini diikuti oleh Kepala Sekolah SD Masehi Waiwakus sekaligus sekaligus mantan guru dan warga jemaat yang tergabung dalam Kelompok Keluarga Kristen Bahagia Sejahtera di GKS Waikambila Bijuk. Penyampaian materi dilakukan dengan pendekatan komunikatif dan kontekstual, sehingga mudah dipahami dan dekat dengan pengalaman hidup para peserta. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan mampu menumbuhkan sikap toleran, saling menghargai perbedaan, serta membiasakan diri hidup ...

Lansia masih bekerja di kebun

Masih Kuat di Usia Senja: Teladan Juma Rangga Ronja yang Menguatkan Iman Di sa at banyak orang mulai mengeluh ketika usia belum terlalu tua, ada seorang lansia bernama Juma Rangga Ronja dari Umapaohi, Desa Bolu Bokat Utara, GKS Waikambila Bijuk Ranting Wairewa, yang justru menunjukkan keteguhan hidup yang luar biasa. Pada usianya yang telah mencapai 96 tahun, beliau masih tetap kuat, masih sanggup bekerja di kebun, dan masih menjalani hari-harinya dengan semangat yang tidak mudah padam. Kesaksian hidup seperti ini bukan hanya mengagumkan, tetapi juga menggugah hati siapa pun yang mendengarnya. Pada kesempatan yang penuh makna ini, Alfred Umbu Oka, S.Pd., selaku Penyuluh Agama Kristen dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumba Tengah, hadir memberikan penguatan rohani melalui doa bagi Juma Rangga Ronja. Kehadiran ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan wujud nyata dari pelayanan kasih yang meneguhkan bahwa orang tua tetap dihargai, tetap diperhatikan, dan tetap layak menerima pe...

PENGUATAN ROHANI DI RSUD WAIBAKUL: SAAT DOA JADI OBAT AJAIB

Pelayanan Bimbingan Rohani di RSUD Waibakul: Menabur Benih Harapan di Tengah Sakit Oleh: Alfred Umbu Oka, S.Pd. Penyuluh Agama Kristen, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumba Tengah Pagi ini, hati saya dipenuhi sukacita saat saya melaksanakan penyuluhan bimbingan rohani di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Waibakul. Sebagai penyuluh yang telah lama melayani di pelosok Sumba Tengah, kesempatan ini seperti panggilan surgawi—membawa terang Kristus ke ruang-ruang penuh erangan sakit, di mana jiwa sering lebih lemah daripada tubuh. Langkah awal kami adalah melapor diri secara resmi ke kantor rumah sakit, lengkap dengan Surat Keputusan (SK) pembagian tugas kelompok sasaran. Saya disambut ramah oleh Ibu Kepala Tata Usaha, Katrina T. Lawang, S.KM. Beliau tak hanya beri dukungan administratif, tapi sampaikan apresiasi tulus: "Kami bersyukur sekali dengan adanya penyuluh agama seperti Bapak/ibu, bisa memberikan penguatan rohani melalui doa bagi setiap pasien." Kata-kata itu seper...