Keluarga Kristen Dipanggil Menjadi Teladan Kasih
Ayat dasar: Kolose 3:12–14
Ada keluarga yang tinggal di bawah satu atap, makan di meja yang sama, dan tidur dalam rumah yang sama, tetapi hatinya saling berjauhan. Ada suami dan istri yang berbicara hanya soal kebutuhan, tetapi tidak lagi saling mendengar. Ada orang tua yang bekerja keras untuk anak-anak, tetapi anak-anak tidak merasakan perhatian. Ada anak yang tinggal bersama orang tua, tetapi lebih memilih membuka telepon genggam daripada membuka hati. Rumah bisa ramai, tetapi kasih bisa hilang. Karena itu, keluarga Kristen perlu kembali bertanya: apakah rumah kita hanya tempat tinggal, atau sungguh menjadi tempat kasih Kristus hidup?
Kolose 3:12–14 berkata:
“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.”
Ayat ini tidak hanya memberikan nasihat, tetapi mengingatkan identitas orang Kristen. Kita adalah orang-orang pilihan Allah, dikuduskan, dan dikasihi-Nya. Karena telah lebih dahulu menerima kasih Tuhan, keluarga Kristen dipanggil untuk mengenakan sifat-sifat Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Kasih tidak boleh hanya tampak ketika keluarga sedang senang. Kasih harus terlihat terutama ketika keluarga sedang lelah, berbeda pendapat, mengalami kekurangan, atau terluka oleh kata-kata satu sama lain.
Kasih Harus Dipakai, Bukan Hanya Dibicarakan
Paulus memakai kata “kenakanlah.” Kata ini memberi gambaran seperti seseorang mengenakan pakaian setiap hari. Belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, dan kasih harus menjadi pakaian rohani keluarga Kristen. Artinya, sifat-sifat itu tidak boleh hanya keluar pada waktu tertentu, tetapi harus melekat dalam cara keluarga menjalani hidup.
Keluarga tidak akan menjadi kuat hanya karena memiliki rumah besar, pekerjaan tetap, atau banyak harta. Semua itu dapat membantu kehidupan, tetapi tidak dapat menggantikan kasih. Rumah yang sederhana tetapi dipenuhi perhatian dan pengampunan jauh lebih berharga daripada rumah yang mewah tetapi penuh amarah, sindiran, dan kepahitan.
Kasih terlihat ketika suami tidak merendahkan istrinya saat marah. Kasih terlihat ketika istri tidak terus mengungkit kesalahan suami. Kasih terlihat ketika orang tua mendidik anak tanpa kekerasan dan penghinaan. Kasih terlihat ketika anak-anak belajar mendengarkan, membantu, dan menghormati orang tua. Kasih juga terlihat ketika anggota keluarga tidak membiarkan seorang pun memikul beban sendirian.
Tidak cukup berkata, “Saya sayang keluarga saya,” jika kata-kata sehari-hari justru melukai. Tidak cukup mengaku keluarga Kristen jika rumah dipenuhi dendam, gosip, dan sikap saling menjatuhkan. Kasih harus dapat dirasakan, bukan hanya didengar.
Belas Kasihan Mengubah Cara Kita Melihat Keluarga
Belas kasihan berarti hati yang mau melihat kesulitan orang lain dan tergerak untuk menolong. Dalam keluarga, belas kasihan membuat kita tidak cepat menghakimi. Ketika pasangan sedang lelah, kita tidak segera menuntut. Ketika anak melakukan kesalahan, kita tidak langsung mempermalukan. Ketika orang tua mulai lemah karena usia, kita tidak menganggap mereka beban.
Setiap anggota keluarga memiliki pergumulan yang mungkin tidak selalu diucapkan. Ada yang sedang memikirkan biaya hidup. Ada yang sedang menghadapi tekanan pekerjaan. Ada anak yang sedang bergumul di sekolah atau dalam pergaulan. Ada lansia yang merasa kesepian. Belas kasihan membuat keluarga belajar bertanya, “Apa yang sedang kamu rasakan?” bukan hanya, “Mengapa kamu tidak melakukan ini?”
Keluarga yang memiliki belas kasihan akan menjadi tempat yang aman. Anggota keluarga tidak takut pulang karena tahu ia akan didengar. Mereka tidak takut mengakui kesalahan karena tahu akan dibimbing, bukan dihancurkan. Belas kasihan tidak menghapus disiplin, tetapi membuat disiplin dilakukan dengan kasih dan hikmat.
Kerendahan Hati Menyelamatkan Banyak Hubungan
Salah satu musuh terbesar dalam keluarga adalah ego. Setiap orang ingin didengar, ingin dianggap benar, ingin dihormati, dan ingin keinginannya dipenuhi. Namun ketika semua orang ingin menang sendiri, rumah akan berubah menjadi tempat pertarungan. Kerendahan hati adalah obat bagi ego yang merusak.
Kerendahan hati bukan berarti membiarkan diri diperlakukan tidak adil. Kerendahan hati berarti berani mengakui kesalahan, bersedia mendengar pendapat orang lain, dan tidak merasa diri paling benar. Orang yang rendah hati mampu berkata, “Saya salah.” Ia tidak mencari alasan untuk membenarkan sikapnya. Ia tidak memindahkan kesalahan kepada orang lain.
Banyak pertengkaran keluarga sebenarnya dapat selesai lebih cepat jika ada satu orang yang mau merendahkan hati. Bukan karena ia kalah, tetapi karena ia memilih kasih lebih besar daripada keinginan untuk menang. Dalam keluarga Kristen, tidak semua perbedaan harus dimenangkan. Ada perbedaan yang harus diselesaikan dengan dialog, doa, dan kesediaan untuk saling memahami.
Kesabaran dan Pengampunan Bukan Tanda Kelemahan
Kolose 3:13 mengajarkan agar kita bersabar seorang terhadap yang lain dan saling mengampuni. Kesabaran sangat dibutuhkan karena tidak ada anggota keluarga yang sempurna. Suami memiliki kelemahan. Istri memiliki kekurangan. Anak-anak masih belajar. Orang tua juga bisa keliru. Jika setiap kesalahan dibalas dengan kemarahan, rumah tidak akan pernah damai.
Mengampuni bukan berarti melupakan semua yang terjadi atau membiarkan kesalahan terus berulang. Pengampunan berarti memilih untuk tidak menyimpan dendam dan tidak membiarkan luka menguasai hati. Pengampunan membuka ruang bagi pemulihan. Tanpa pengampunan, keluarga akan terus mengingat masa lalu sebagai senjata untuk menyerang satu sama lain.
Tuhan telah mengampuni kita lebih dahulu. Karena itu, pengampunan dalam keluarga bukan sesuatu yang mustahil. Memang kadang sulit, terutama jika luka sudah lama disimpan. Namun keluarga perlu belajar menyerahkan luka kepada Tuhan dan mulai membangun kembali hubungan dengan langkah-langkah kecil. Mungkin dimulai dari meminta maaf, mau mendengar, berhenti mengungkit kesalahan, atau berdoa bersama.
Kasih adalah Pengikat yang Menyempurnakan
Paulus berkata bahwa di atas semuanya itu, kenakanlah kasih sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Kasih adalah pengikat keluarga. Tanpa kasih, setiap anggota keluarga dapat berjalan sendiri-sendiri. Namun dengan kasih, perbedaan dapat dijembatani, kesalahan dapat dipulihkan, dan beban dapat dipikul bersama.
Kasih tidak selalu berupa hal besar. Kasih dapat terlihat dalam tindakan sederhana:
Menyapa anggota keluarga dengan ramah saat pagi dan pulang ke rumah.
Mengucapkan terima kasih atas hal kecil yang dilakukan pasangan atau anak.
Menyediakan waktu untuk mendengar cerita anak tanpa menghakimi.
Membantu pekerjaan rumah tanpa harus menunggu diminta.
Mengunjungi atau memperhatikan anggota keluarga yang sedang sakit.
Berdoa bersama untuk pergumulan keluarga.
Menghentikan kata-kata kasar sebelum kata itu melukai.
Meminta maaf dengan tulus dan mengampuni tanpa menyimpan dendam.
Tindakan kecil yang dilakukan setiap hari dapat membentuk rumah yang penuh kasih. Kasih bukan sesuatu yang muncul hanya ketika suasana hati sedang baik. Kasih adalah keputusan untuk tetap melakukan yang benar, bahkan ketika kita sedang kecewa atau lelah.
Menjadi Teladan di Masyarakat
Keluarga Kristen tidak hidup sendiri. Cara keluarga menjalani hidup akan dilihat oleh tetangga, masyarakat, dan terutama oleh anak-anak. Ketika keluarga Kristen mampu saling mengasihi, mengampuni, dan melayani, masyarakat akan melihat bahwa iman kepada Kristus benar-benar membawa perubahan.
Sebaliknya, jika keluarga yang mengaku Kristen justru penuh pertengkaran, kata-kata kasar, dan ketidakpedulian, maka kesaksian iman menjadi lemah. Dunia tidak hanya mendengar apa yang kita katakan tentang kasih. Dunia melihat bagaimana kita memperlakukan orang terdekat kita.
Keluarga yang hidup dalam kasih dapat menjadi sumber damai di lingkungannya. Mereka dapat menolong tetangga yang kesulitan, menghormati orang yang berbeda, menghindari gosip, dan terlibat dalam kerja bersama. Dengan demikian, kasih dalam keluarga tidak berhenti di dalam rumah, tetapi mengalir menjadi berkat bagi masyarakat sekitar.
Penutup
Kolose 3:12–14 memanggil keluarga Kristen untuk mengenakan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, pengampunan, dan kasih. Semua sifat ini bukan tambahan bagi kehidupan keluarga, tetapi dasar yang membuat keluarga tetap kuat di tengah perbedaan dan pergumulan.
Keluarga Kristen dipanggil untuk tidak hanya tinggal bersama, tetapi hidup saling mengasihi. Tidak hanya berbicara tentang iman, tetapi memperlihatkan iman melalui perhatian, pengampunan, dan pelayanan. Ketika kasih Kristus hidup di dalam rumah, keluarga akan menjadi teladan yang membawa damai dan pengharapan bagi masyarakat sekitar.
Renungan: Jika setiap anggota keluarga diperlakukan seperti kita memperlakukan mereka hari ini, apakah rumah ini akan menjadi tempat yang membuat orang merasa dikasihi atau justru terluka?

Komentar
Posting Komentar