Langsung ke konten utama

Anak Dipanggil Mengasihi dengan Tindakan

 

Mengasihi Teman dan Orang Lain

Sasaran: Anak Gereja Pusat Jemaat Waikambila Bijuk
Ayat dasar: 1 Yohanes 3:18

Anak-anak hidup di tengah dunia yang penuh dengan persaingan, keinginan untuk diterima oleh kelompok, dan dorongan untuk terlihat lebih hebat daripada teman-teman lain. Di sekolah, di lingkungan bermain, bahkan di dalam persekutuan anak, mereka dapat menghadapi ejekan, panggilan nama yang tidak baik, perlakuan tidak adil, atau sikap mengucilkan. Ada anak yang sengaja mengejek temannya agar dianggap lucu. Ada yang tidak mau berteman dengan anak lain karena penampilan, keadaan keluarga, kemampuan belajar, atau latar belakang yang berbeda. Ada juga yang merasa kuat ketika teman lain menangis karena perkataannya.

Namun anak Kristen dipanggil untuk hidup berbeda. Mereka tidak dipanggil untuk menjadi penyebab luka, tetapi pembawa kasih. Mereka tidak dipanggil untuk memakai perkataan sebagai senjata, tetapi memakai perkataan untuk menguatkan. Mereka tidak dipanggil untuk membuat teman merasa kecil, takut, atau tidak berharga. Sebaliknya, mereka dipanggil menjadi anak-anak yang menghadirkan sukacita, rasa aman, dan kepedulian di mana pun mereka berada.

Firman Tuhan dalam 1 Yohanes 3:18 berkata, “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” Ayat ini sangat sederhana, tetapi pesannya sangat dalam. Tuhan tidak ingin anak-anak hanya pandai berkata, “Saya mengasihi teman saya,” atau “Saya anak Tuhan.” Tuhan ingin kasih itu terlihat dalam sikap dan tindakan yang nyata.

Kasih bukan hanya kata yang diucapkan saat berdoa atau bernyanyi di gereja. Kasih terlihat ketika seorang anak mau berbagi bekal dengan teman yang tidak membawa makanan. Kasih terlihat ketika seorang anak membantu teman yang kesulitan mengerjakan tugas. Kasih terlihat ketika seorang anak tidak ikut mengejek teman yang sedang menangis. Kasih juga terlihat ketika seorang anak berani menghentikan perbuatan salah, walaupun teman-temannya sedang melakukannya.

Jangan Jadikan Ejekan sebagai Hiburan

Kadang-kadang anak menganggap mengejek sebagai permainan biasa. Mereka mungkin tidak menyadari bahwa satu kata kasar, satu panggilan yang tidak baik, atau satu tertawaan bersama dapat meninggalkan luka yang sangat dalam pada hati teman. Anak yang diejek terus-menerus dapat merasa malu, takut pergi ke sekolah, tidak percaya diri, bahkan merasa tidak diterima oleh siapa pun.

Karena itu, anak-anak perlu belajar bahwa menjadi lucu tidak harus membuat orang lain terluka. Bercanda tidak boleh berubah menjadi penghinaan. Bermain tidak boleh berubah menjadi bullying. Anak Kristen harus berani berkata, “Jangan ejek dia,” atau “Mari kita berteman baik.” Sikap seperti ini mungkin terlihat kecil, tetapi sangat berarti bagi teman yang sedang merasa sendirian.

Yesus sendiri mengajarkan kasih kepada orang-orang yang sering diabaikan oleh masyarakat. Ia menerima anak-anak, menolong orang sakit, menyapa mereka yang disingkirkan, dan mengasihi orang-orang yang dianggap tidak penting. Karena itu, anak-anak yang mengikuti Yesus juga harus belajar menerima teman yang berbeda, termasuk teman yang pendiam, kurang mampu, memiliki kekurangan, atau tidak sepopuler yang lain.

Kasih Dimulai dari Hal Kecil

Kasih tidak harus menunggu seseorang menjadi dewasa atau memiliki banyak uang. Anak-anak dapat mulai mengasihi melalui hal-hal kecil yang dilakukan setiap hari. Mereka dapat menyapa teman dengan ramah, mengucapkan kata-kata yang baik, mau berbagi alat tulis, membantu teman yang jatuh, dan tidak mengambil barang yang bukan miliknya.

Kasih juga terlihat dalam kejujuran. Anak yang benar-benar mengasihi tidak akan menipu atau membohongi temannya. Ia tidak akan mengajak teman melakukan hal yang salah. Ia tidak akan membiarkan temannya mendapat hukuman atas kesalahan yang ia lakukan sendiri. Kasih dalam kebenaran berarti berani melakukan yang benar, sekalipun tidak selalu mudah.

Anak-anak juga perlu belajar bahwa meminta maaf adalah bagian dari kasih. Tidak ada anak yang sempurna. Semua bisa salah, marah, berebut, atau mengucapkan kata yang menyakitkan. Tetapi ketika seorang anak berani berkata, “Maaf, saya salah,” ia sedang menunjukkan hati yang rendah. Sebaliknya, ketika seorang anak mau mengampuni, ia sedang belajar memiliki hati seperti Kristus.

Mengampuni bukan berarti membiarkan kesalahan terus terjadi. Mengampuni berarti tidak menyimpan dendam dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Anak yang mau mengampuni akan lebih kuat daripada anak yang terus menyimpan marah. Hati yang penuh dendam akan membuat seseorang lelah, tetapi hati yang mengampuni akan memberi damai.

Teman yang Baik Membawa Sukacita

Setiap anak tentu ingin memiliki teman. Namun anak juga perlu belajar menjadi teman yang baik. Teman yang baik tidak hanya hadir saat bermain, tetapi juga hadir saat temannya sedih. Teman yang baik tidak mengajak kepada hal yang salah, tetapi mengingatkan dan menolong. Teman yang baik tidak menyebarkan rahasia, tetapi menjaga kepercayaan. Teman yang baik tidak memilih-milih teman berdasarkan kekayaan, pakaian, atau kepintaran.

Anak-anak di Gereja Pusat Jemaat Waikambila Bijuk diajak untuk menjadi sahabat yang mencerminkan kasih Kristus. Ketika melihat teman duduk sendirian, jangan biarkan ia merasa tersisih. Ketika melihat teman kesulitan, jangan hanya menonton. Ketika mendengar teman diejek, jangan ikut tertawa. Hadirlah sebagai anak yang membawa damai.

Menjadi teman yang baik bukan berarti harus selalu setuju dengan semua yang dilakukan teman. Jika teman mengajak melakukan hal yang salah, anak Kristen harus berani menolak. Mengasihi bukan berarti ikut dalam kesalahan. Mengasihi berarti menolong teman untuk memilih jalan yang benar. Kadang-kadang keberanian untuk berkata “tidak” adalah bentuk kasih yang paling nyata.

Peran Keluarga, Gereja, dan Sekolah

Pendidikan kasih tidak hanya menjadi tugas anak. Orang tua, guru, pembina sekolah minggu, dan seluruh jemaat memiliki tanggung jawab untuk memberi teladan. Anak-anak lebih mudah meniru apa yang mereka lihat daripada hanya mengingat apa yang mereka dengar. Jika orang tua berbicara kasar di rumah, anak dapat belajar berkata kasar kepada temannya. Jika orang dewasa suka merendahkan orang lain, anak-anak dapat meniru sikap yang sama.

Karena itu, keluarga perlu membangun kebiasaan mengucapkan terima kasih, meminta maaf, saling menolong, dan berbicara dengan sopan. Gereja perlu menjadi tempat anak-anak merasa diterima dan dihargai. Sekolah perlu menjadi ruang yang aman dari kekerasan verbal maupun fisik. Semua pihak perlu bekerja sama agar anak-anak tidak hanya pandai membaca dan berhitung, tetapi juga memiliki hati yang penuh kasih.

Anak-anak harus diyakinkan bahwa mereka berharga di mata Tuhan. Mereka tidak perlu merendahkan orang lain untuk merasa hebat. Mereka tidak perlu memukul untuk dianggap kuat. Mereka tidak perlu mengikuti teman yang salah agar diterima. Nilai mereka tidak ditentukan oleh pendapat kelompok, melainkan oleh kasih Tuhan yang menciptakan dan mengasihi mereka.

Praktik Kasih Sehari-hari

Kasih dapat dipraktikkan anak-anak melalui beberapa tindakan sederhana:

  • Menyapa teman dengan ramah ketika bertemu di sekolah, gereja, atau lingkungan bermain.
  • Tidak mengejek nama, bentuk tubuh, kemampuan, atau keadaan keluarga teman.
  • Mau berbagi makanan, alat tulis, atau permainan dengan sikap yang tulus.
  • Membantu teman yang jatuh, kesulitan belajar, atau sedang mengalami masalah.
  • Berani berkata tidak ketika diajak membully, berbohong, mencuri, atau melakukan tindakan salah.
  • Meminta maaf dengan sungguh-sungguh ketika melakukan kesalahan.
  • Mau mengampuni teman dan tidak menyimpan dendam.
  • Mengajak teman yang sering sendirian untuk bermain atau bergabung dalam kegiatan.
  • Mendoakan teman yang sakit, sedih, atau sedang mengalami kesulitan.

Tindakan ini mungkin sederhana, tetapi dapat menjadi terang yang besar. Satu anak yang memilih tidak mengejek dapat menghentikan sebuah kebiasaan buruk. Satu anak yang berani menolong dapat membuat temannya merasa tidak sendiri. Satu anak yang mau mengampuni dapat memulihkan persahabatan yang retak.

Penutup

1 Yohanes 3:18 mengajarkan bahwa kasih tidak boleh berhenti pada perkataan. Anak-anak dipanggil untuk mengasihi dengan perbuatan dan dalam kebenaran. Kasih itu nyata ketika mereka tidak mengejek, mau menolong, berani meminta maaf, bersedia mengampuni, serta menjadi teman yang membawa kebaikan.

Anak-anak Gereja Pusat Jemaat Waikambila Bijuk dipanggil menjadi generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berhati lembut. Mereka dipanggil menjadi anak-anak yang tidak membully, tidak mengucilkan, dan tidak membuat orang lain takut. Sebaliknya, mereka harus menjadi pembawa sukacita, penguat bagi teman, dan saksi kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

Renungan: Anak yang kuat bukan anak yang ditakuti teman-temannya. Anak yang kuat adalah anak yang membuat teman-temannya merasa aman, dihargai, diterima, dan dikasihi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menumbuhkan Toleransi dan Harmoni, Penyuluh Agama Kristen Kemenag Sumba Tengah Laksanakan Penyuluhan

Waibakul, 9 Februari 2026 – Penyuluh Agama Kristen Kementerian Agama Kabupaten Sumba Tengah, Alfred Umbu Oka, S.Pd., melaksanakan kegiatan bimbingan dan penyuluhan keagamaan di GKS Waikambila Bijuk. Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas pelayanan keagamaan kepada umat binaan dalam rangka memperkuat iman, karakter, dan sikap kebangsaan jemaat. Dalam kesempatan tersebut, Penyuluh Agama Kristen menyampaikan materi pembinaan iman dengan tema “Mensyukuri Keragaman dalam Pendidikan dan Masyarakat Indonesia”. Materi ini diikuti oleh Kepala Sekolah SD Masehi Waiwakus sekaligus sekaligus mantan guru dan warga jemaat yang tergabung dalam Kelompok Keluarga Kristen Bahagia Sejahtera di GKS Waikambila Bijuk. Penyampaian materi dilakukan dengan pendekatan komunikatif dan kontekstual, sehingga mudah dipahami dan dekat dengan pengalaman hidup para peserta. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan mampu menumbuhkan sikap toleran, saling menghargai perbedaan, serta membiasakan diri hidup ...

Lansia masih bekerja di kebun

Masih Kuat di Usia Senja: Teladan Juma Rangga Ronja yang Menguatkan Iman Di sa at banyak orang mulai mengeluh ketika usia belum terlalu tua, ada seorang lansia bernama Juma Rangga Ronja dari Umapaohi, Desa Bolu Bokat Utara, GKS Waikambila Bijuk Ranting Wairewa, yang justru menunjukkan keteguhan hidup yang luar biasa. Pada usianya yang telah mencapai 96 tahun, beliau masih tetap kuat, masih sanggup bekerja di kebun, dan masih menjalani hari-harinya dengan semangat yang tidak mudah padam. Kesaksian hidup seperti ini bukan hanya mengagumkan, tetapi juga menggugah hati siapa pun yang mendengarnya. Pada kesempatan yang penuh makna ini, Alfred Umbu Oka, S.Pd., selaku Penyuluh Agama Kristen dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumba Tengah, hadir memberikan penguatan rohani melalui doa bagi Juma Rangga Ronja. Kehadiran ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan wujud nyata dari pelayanan kasih yang meneguhkan bahwa orang tua tetap dihargai, tetap diperhatikan, dan tetap layak menerima pe...

PENGUATAN ROHANI DI RSUD WAIBAKUL: SAAT DOA JADI OBAT AJAIB

Pelayanan Bimbingan Rohani di RSUD Waibakul: Menabur Benih Harapan di Tengah Sakit Oleh: Alfred Umbu Oka, S.Pd. Penyuluh Agama Kristen, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumba Tengah Pagi ini, hati saya dipenuhi sukacita saat saya melaksanakan penyuluhan bimbingan rohani di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Waibakul. Sebagai penyuluh yang telah lama melayani di pelosok Sumba Tengah, kesempatan ini seperti panggilan surgawi—membawa terang Kristus ke ruang-ruang penuh erangan sakit, di mana jiwa sering lebih lemah daripada tubuh. Langkah awal kami adalah melapor diri secara resmi ke kantor rumah sakit, lengkap dengan Surat Keputusan (SK) pembagian tugas kelompok sasaran. Saya disambut ramah oleh Ibu Kepala Tata Usaha, Katrina T. Lawang, S.KM. Beliau tak hanya beri dukungan administratif, tapi sampaikan apresiasi tulus: "Kami bersyukur sekali dengan adanya penyuluh agama seperti Bapak/ibu, bisa memberikan penguatan rohani melalui doa bagi setiap pasien." Kata-kata itu seper...