Langsung ke konten utama

Keluarga Harus Menjadi Tempat Penerimaan

 

Moderasi Beragama: Membangun Keluarga yang Inklusif

Keluarga Kristen Bahagia Sejahtera Cabang Palicuk Temung
Ayat dasar: Galatia 3:28

Di dalam masyarakat, orang mudah membangun kelompok berdasarkan perbedaan agama, suku, latar belakang, status sosial, bahkan pilihan pribadi. Perbedaan itu kadang membuat orang merasa lebih tinggi daripada orang lain. Padahal di hadapan Allah, setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati. Tidak ada alasan bagi orang percaya untuk menghina, menolak, atau memperlakukan sesama dengan kebencian.

Galatia 3:28 menyatakan bahwa dalam Kristus tidak ada lagi orang Yahudi atau Yunani, hamba atau orang merdeka, laki-laki atau perempuan, karena semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Firman ini tidak berarti semua orang harus sama atau perbedaan menjadi hilang. Namun firman ini menegaskan bahwa perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan nilai seseorang.

Keluarga Kristen yang inklusif adalah keluarga yang memiliki iman yang jelas, tetapi tidak membangun sikap benci terhadap orang lain. Keluarga seperti ini tetap teguh percaya kepada Kristus, tetapi mampu menghormati tetangga yang berbeda keyakinan. Mereka tidak menyebarkan gosip, tidak membangun prasangka, dan tidak mengajarkan anak-anak untuk menertawakan perbedaan.

Rumah adalah tempat pertama anak belajar tentang dunia. Jika di rumah anak mendengar kata-kata kebencian, ia akan belajar membenci. Jika di rumah anak melihat orang tua merendahkan kelompok lain, ia akan tumbuh dengan hati yang sempit. Tetapi jika ia melihat orang tua menghormati tetangga, berbicara dengan santun, dan mau membantu siapa pun yang membutuhkan, ia akan belajar bahwa kasih Kristus bukan sekadar teori.

Keluarga inklusif bukan keluarga yang kehilangan batas iman. Keluarga inklusif adalah keluarga yang memahami bahwa kasih dan kebenaran harus berjalan bersama. Tidak semua ajaran harus dicampuradukkan, tetapi setiap manusia tetap harus dihargai. Itulah kedewasaan iman yang dibutuhkan di tengah masyarakat majemuk.

Renungan: Iman yang kuat tidak membuat seseorang takut kepada perbedaan; iman yang kuat membuat seseorang mampu mengasihi di tengah perbedaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menumbuhkan Toleransi dan Harmoni, Penyuluh Agama Kristen Kemenag Sumba Tengah Laksanakan Penyuluhan

Waibakul, 9 Februari 2026 – Penyuluh Agama Kristen Kementerian Agama Kabupaten Sumba Tengah, Alfred Umbu Oka, S.Pd., melaksanakan kegiatan bimbingan dan penyuluhan keagamaan di GKS Waikambila Bijuk. Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas pelayanan keagamaan kepada umat binaan dalam rangka memperkuat iman, karakter, dan sikap kebangsaan jemaat. Dalam kesempatan tersebut, Penyuluh Agama Kristen menyampaikan materi pembinaan iman dengan tema “Mensyukuri Keragaman dalam Pendidikan dan Masyarakat Indonesia”. Materi ini diikuti oleh Kepala Sekolah SD Masehi Waiwakus sekaligus sekaligus mantan guru dan warga jemaat yang tergabung dalam Kelompok Keluarga Kristen Bahagia Sejahtera di GKS Waikambila Bijuk. Penyampaian materi dilakukan dengan pendekatan komunikatif dan kontekstual, sehingga mudah dipahami dan dekat dengan pengalaman hidup para peserta. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan mampu menumbuhkan sikap toleran, saling menghargai perbedaan, serta membiasakan diri hidup ...

Lansia masih bekerja di kebun

Masih Kuat di Usia Senja: Teladan Juma Rangga Ronja yang Menguatkan Iman Di sa at banyak orang mulai mengeluh ketika usia belum terlalu tua, ada seorang lansia bernama Juma Rangga Ronja dari Umapaohi, Desa Bolu Bokat Utara, GKS Waikambila Bijuk Ranting Wairewa, yang justru menunjukkan keteguhan hidup yang luar biasa. Pada usianya yang telah mencapai 96 tahun, beliau masih tetap kuat, masih sanggup bekerja di kebun, dan masih menjalani hari-harinya dengan semangat yang tidak mudah padam. Kesaksian hidup seperti ini bukan hanya mengagumkan, tetapi juga menggugah hati siapa pun yang mendengarnya. Pada kesempatan yang penuh makna ini, Alfred Umbu Oka, S.Pd., selaku Penyuluh Agama Kristen dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumba Tengah, hadir memberikan penguatan rohani melalui doa bagi Juma Rangga Ronja. Kehadiran ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan wujud nyata dari pelayanan kasih yang meneguhkan bahwa orang tua tetap dihargai, tetap diperhatikan, dan tetap layak menerima pe...

PENGUATAN ROHANI DI RSUD WAIBAKUL: SAAT DOA JADI OBAT AJAIB

Pelayanan Bimbingan Rohani di RSUD Waibakul: Menabur Benih Harapan di Tengah Sakit Oleh: Alfred Umbu Oka, S.Pd. Penyuluh Agama Kristen, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumba Tengah Pagi ini, hati saya dipenuhi sukacita saat saya melaksanakan penyuluhan bimbingan rohani di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Waibakul. Sebagai penyuluh yang telah lama melayani di pelosok Sumba Tengah, kesempatan ini seperti panggilan surgawi—membawa terang Kristus ke ruang-ruang penuh erangan sakit, di mana jiwa sering lebih lemah daripada tubuh. Langkah awal kami adalah melapor diri secara resmi ke kantor rumah sakit, lengkap dengan Surat Keputusan (SK) pembagian tugas kelompok sasaran. Saya disambut ramah oleh Ibu Kepala Tata Usaha, Katrina T. Lawang, S.KM. Beliau tak hanya beri dukungan administratif, tapi sampaikan apresiasi tulus: "Kami bersyukur sekali dengan adanya penyuluh agama seperti Bapak/ibu, bisa memberikan penguatan rohani melalui doa bagi setiap pasien." Kata-kata itu seper...